TRENDING NOW

Baja Ringan Jakarta

Baja ringan adalah baja yang berkualitas tinggi dan ringan, namun  kekuatan baja tersebut tidak kalah dengan baja konvensional. Ketebalan pada baja ringan ditentukan oleh fungsinya. Penggunaannya belum polpuler di Indonesia. Sehingga banyak masyarakat Indonesia yang enggan untuk menggunakan. Padahal sebenarnya, rangka ini sangat cocok untuk digunakan di wilayah Indonesia yang cenderung rawan terjadinya gempa.
baja-ringan
Kenapa harus menggunakan BAJA RINGAN, berikut 6 alasan nya
Berikut 6 alasan utama tersebut,
  1. Tidak akan dimakan rayap. Seperti kita ketahui, kualitas kayu yang banyak digunakan maupun yang ada di pasaran saat ini adalah kayu dengan kualitas 3 kebawah atau kurang baik. Tidak banyak lagi, bahkan sudah sangat jarang yang menyediakan atau menggunakan kayu kualitas bagus seperti kayu jati untuk membangun sebuah bangunan. Oleh karena itu, pemilihan merupakan hal mutlak jika rangka anda ingin memiliki usia yang lebih awet
  2. Akan mempercepat durasi atau waktu pengerjaan suatu bangunan. Baja ringan yang sudah siap pasang tentunya akan banyak menghemat waktu pengerjaan berbagai proyek bangunan yang anda kerjakan. Bahkan sebuah rumah dengan type 36 bisa diseslesaikan dalam waktu kurang lebih 1 minggu dengan menggunakan rangka baja ringan.
  3. Struktur lebih ringan daripada jika anda menggunakan kayu sebagai rangka atap anda. Tentunya hal ini bisa mempermudah pengerjaan dan keamanan para pekerja anda lebih terjamin.
  4. Hemat biaya.  tidak mudah lapuk. Bayangkan berapa banyak uang yang bisa Anda hemat dengan fitur baja ringan ini terutama dalam segi biaya perawatan bangunan anda kedepanya. Selain itu, menurut beberapa hasil survei yang ada,rumah type 42 yang dibangun dengan struktur atap baja ringan dan dinding bata, bisa dihemat biaya pembuatanya hingga di kisaran angka 31jutaan saja (sudah termasuk biaya penutup atap dan diluar pondasi tentunya ). Amazing bukan…:)
  5. Memiliki struktur atau material yang bisa disesuaikan dengan keadaan geografis sebuah daerah. Misalkan bangunan Anda berada di pinggir laut atau pantai, maka rangka baja ringan yang anda gunakan akan dilapisi dengan bahan tertentu yang akan menyesuaikan dengan kontur wilayah pantai ( tidak mudah berkarat tentunya ). Apakah material kayu anda memiliki kelebihan ini? saya rasa belum
  6. Untuk menjaga lingkungan. Seperti yang kita tahu bahwa hutan di Indonesia tidak sehijau dahulu kala akibat pembalakan liar. Oleh karena itu dengan kita menggunakan atap baja ringan itu sama saja ikut menjaga lingkungan kita yang sudah terlanjur rusak tidak menjadi lebih parah lagi.
Baja Ringan

Perbandingan Atap Baja Ringan & kayu

Perbandingan antara pemakaian kerangka atap baja ringan dan kayu.
Teknologi baja ringan di Indonesia yang semakin berkembang mampu memberikan rangka atap rumah dari kayu berubah menjadi kerangka atap dari baja ringan nampaknya makin diminati masyarakat secara luas bahkan sampai ke pelosok pelosok daerah banyak menggunakan alternatif pengganti kerangka atap yang tadinya kayu diganti dengan dari bahan baja ringan, berbagai pertimbangan dilakukan untuk  menjadi alasan lebih memilih menggunakan pemasangan, sebenarnya diperlukan metode atau struktur yang baik agar mendapatkan hasil konstruksi atau kuda kuda  yang baik dan memuaskan. Berikut ini saya coba uraikan sedikit gambaran bagaimana perbandingan atau perbedaan penggunaan kerangka dengan penggunaan dari kayu sebelum kita memutuskan untuk menggunakan nya.
Dalam beberapa kondisi perbedaan atau perbandingan rangka atap baja ringan dan menggunakan kayu sebagai berikut :
  • Mudah didapat didaerah perkotaan besar bahkan saat ini sudah banyak juga penjualan material nya di kota kecil.
  • Konstruksi lebih ringan, tahan lebih lama serta biaya lebih murah dalam perawatannya.
  • Bebas dari hama penggangu seperti rayap atau jamur.
  • Membutuhkan perhitungan secara cermat dan teliti untuk menentukan diminsi yang kuat efisien dengan biaya yang lebih murah.
  • Mudah dalam pemasangan karena sudah di fabrikasi oleh teknisi (tukang) yang berpengalaman sebelum dilakukan pemasangan juga dengan bentuk profil yang memang sudah disesuaikan dengan kebutuhan dilapangan.
  • Diperlukan tenaga kerja / tenisi dengan dengan keahlian khusus untuk dapat menghasilkan pemasangan struktur & konstruksi baja ringan yang benar dan hasil yang memuaskan
Rangka atap kayu :
  • Terbatasnya jumlah kayu berkualitas yang dapat dipergunakan sebagai bahan bangunan atap sebagai rangka atap yang juga kita perlu melestarikan lingkungan hidup menjadikan baja ringan menjadi alternatif pilihan utama saat ini sebagai rangka atap rumah.
  • Tidak tahan terhadap ham apemangsa seperti rayap & jamur yang menyebabkan berkurangnya dimensi kayu dan pelapukan yang ditimbulkan karena proses alam yang menyebabkan berkurangnya juga kekuatan konstruksi atap rumah.
  • Metode pemasangan rangka kayu cukup mudah bisa hanya diperlukan tenaga tukang bangunan yang sudah terlatih bisa mengerjakan pemasangannya.
  • Memerlukan upaya pengawetan khusus sebelum dipasang agar rangka atap bisa bertahan lama sehingga membuat bertambahnya biaya pemeliharaan yang tidak murah bahkan tidak efisien dibanding rangka dari baja ringan.
  • Konstruksi kayu mempunyai beban yang berat.
  • Kwalitas dari setiap kayu menyesuaikan dari kekuatan rangka yang dipasang.
Demikian sedikit uraian / gambaran perbandingan apabila kita memilih menggunakan rangka atap dari baja ringan atau dari bahan kayu, semoga bermanfaat.

Kandang Ayam dan Jenis Ayam berdasarkan fungsinya

Kandang adalah struktur atau bangunan di mana hewan ternak dipelihara. Kandang seringkali kategorikan menurut jumlah hewan yang menempatinya missal :
KANDANG AYAM
KANDANG AYAM
  1. Ada yang hanya berupa satu bangunan satu hewan
  2. Satu bangunan banyak hewan namun terpisah sekat
  3. Satu bangunan diisi banyak hewan tanpa sekat
Kandang merupakan istilah umum dalam bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Inggris memiliki banyak istilah yang seringkali dibedakan menurut jenis hewan yang dipelihara dan cara pemeliharaannya.
Kandang ayam dapat disebut dengan chicken tractor atau chicken coop (untuk ayam yang dikandangkan di pekarangan rumah); battery cage (kandang ayam petelur yang sangat sempit); dan furnished cage (battery cage dengan kondisi yang lebih baik).
Beberapa macam kandang antara lain :
  • Kandang kuda umum disebut dengan stable atau stall
  • Kandang kambing umum disebut dengan goat pen atau goat stable
  • Kandang sapi disebut dengan cow shed
  • Kandang ikan di Indonesia disebut dengan keramba
Untuk jenis hewan ternak lain, biasanya menyatu dengan bangunan pertanian lain dan disebut dengan gudang pertanian (barn) atau dipelihara dalam bangunan besar dalam sebuah sistem yang disebut dengan peternakan pabrik (factory farming).
Di website kandangayam.net khusus membahas Kandang Ayam oleh karna itu kita harus mengetahui Jenis ayam dan fungsi dari ayam itu untuk kehidupan kita
Semua ayam yang ada di dunia ini pada dasarnya adalah ayam peliharaan, adapun pengertian ayam peliharaan adalah
Khusus untuk pembahasan KANDANG AYAM CLOSE HOUSE
KANDANG AYAM CLOSE HOUSE
KANDANG AYAM CLOSE HOUSE
Ayam peliharaan (Gallus gallus domesticus) adalah unggas yang biasa dipelihara orang untuk dimanfaatkan untuk keperluan hidup pemeliharanya. Ayam peliharaan (selanjutnya disingkat “ayam” saja) merupakan keturunan langsung dari salah satu subspesies ayam hutan yang dikenal sebagai ayam hutan merah (Gallus gallus) atau ayam bangkiwa (bankiva fowl). Kawin silang antarras ayam telah menghasilkan ratusan galur unggul atau galur murni dengan bermacam-macam fungsi; yang paling umum adalah ayam potong (untuk dipotong) dan ayam petelur (untuk diambil telurnya). Ayam biasa dapat pula dikawin silang dengan kerabat dekatnya, ayam hutan hijau, yang menghasilkan hibrida mandul yang jantannya dikenal sebagai ayam bekisar.
Dengan populasi lebih dari 24 milyar pada tahun 2003, Firefly’s Bird Encyclopaedia menyatakan ada lebih banyak ayam di dunia ini daripada burung lainnya. Ayam memasok dua sumber protein dalam pangan: daging ayam dan telur.
Sudut pandang tradisional peternakan ayam dalam domestikasi spesies ini termaktub dalam Encyclopædia Britannica (2007): “Manusia pertama mendomestifikasi ayam asal India untuk keperluan adu ayam di Asia, Afrika, dan Eropa. Tidak ada perhatian khusus diberikan ke produksi telur atau daging
Biologi dan habitat
Ayam peliharaan berasal dari domestikasi ayam hutan merah (ayam bangkiwa, Gallus gallus) yang hidup di India. Namun demikian, pengujian molekular menunjukkan kemungkinan sumbangan plasma nutfah dari G. sonneratii, karena ayam hutan merah tidak memiliki sifat kulit warna kuning yang menjadi salah satu ciri ayam peliharaan.
Ayam menunjukkan perbedaan morfologi di antara kedua tipe kelamin (dimorfisme seksual). Ayam jantan (jago, rooster) lebih atraktif, berukuran lebih besar, memiliki jalu panjang, berjengger lebih besar, dan bulu ekornya panjang menjuntai. Ayam betina (babon, hen) relatif kecil, berukuran kecil, jalu pendek atau nyaris tidak kelihatan, berjengger kecil, dan bulu ekor pendek. Perkelaminan ini diatur oleh sistem hormon. Apabila terjadi gangguan pada fungsi fisiologi tubuhnya, ayam betina dapat berganti kelamin menjadi jantan karena ayam dewasa masih memiliki ovotestis yang dorman dan sewaktu-waktu dapat aktif.
Sebagai hewan peliharaan, ayam mampu mengikuti ke mana manusia membawanya. Hewan ini sangat adaptif dan dapat dikatakan bisa hidup di sembarang tempat, asalkan tersedia makanan baginya. Karena kebanyakan ayam peliharaan sudah kehilangan kemampuan terbang yang baik, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di tanah atau kadang-kadang di pohon.
Ayam berukuran kecil kadang-kadang dimangsa oleh unggas pemangsa, seperti elang.
Macam-macam Ayam
Karena ayam termasuk unggas peliharaan populer dan murah, muncul berbagai istilah teknis akibat kegiatan penangkaran dan peternakan ayam.
Berdasarkan fungsi dari ayam
Menurut fungsinya, orang mengenal
  • ayam pedaging atau ayam potong (broiler), untuk dimanfaatkan dagingnya
  • ayam petelur (layer), untuk dimanfaatkan telurnya
  • ayam hias atau ayam timangan (pet, klangenan), untuk dilepas di kebun/taman atau dipelihara dalam kurungan karena kecantikan penampilan atau suaranya (misalnya ayam katai dan ayam pelung; ayam bekisar dapat pula digolongkan ke sini meskipun bukan ayam peliharaan sejati)
  • ayam sabung, untuk dijadikan permainan sabung ayam
Istilah ayam sayur dipakai untuk ayam kampung atau ayam aduan yang selalu kalah, dan tidak diseleksi khusus sebagai ayam pedaging.
Berdasarkan ras ayam
Ayam “bantam” adalah istilah bahasa Inggris untuk ayam katai atau setengah katai hasil seleksi.
Di Indonesia dikenal istilah ayam ras dan ayam bukan ras (buras, atau kampung). Dalam pengertian “ayam ras” menurut istilah itu yang dimaksud sebenarnya adalah ras yang dikembangkan untuk usaha komersial massal, seperti Leghorn (“lehor”). Ke dalam kelompok ayam buras terdapat pula ras lokal ayam yang khas namun tidak dikembangkan untuk usaha komersial massal. Ayam-ayam ras lokal demikian sekarang mulai dikembangkan (dimurnikan) sebagai ayam sabung, ayam timangan (pet), atau untuk acara ritual. Berikut ini adalah ras lokal ayam di Nusantara yang telah dikembangkan untuk sifat/penampilan tertentu:
  • Ayam pelung, ras lokal dan unggul dari Priangan (Kabupaten Cianjur) yang memiliki kokokan yang khas (panjang dan bernada unik), termasuk ayam hias
  • Ayam kedu (termasuk ayam cemani), ras lokal dan mulia dari daerah Kedu dengan ciri khas warna hitam legam hingga moncong dan dagingnya, termasuk ayam pedaging dan ayam hias
  • Ayam nunukan, ras lokal dan mulia dari Nunukan, Kaltim, dengan bentuk badan tegap dan ukuran besar, keturunan ayam aduan, termasuk ayam pedaging dan hias
Terdapat pula beberapa istilah untuk menyebut penampilan fenotipe khas tertentu namun sifat itu tidak selalu eksklusif milik ras tertentu, seperti
  • Ayam walik (frizzle), ayam dengan bulu yang tidak menutupi badan tetapi tegak berdiri
  • Ayam bali, ayam dengan leher tidak berbulu dan jambul di kepalanya, sekarang mulai dibiakmurnikan
  • Ayam katai (bantam), istilah umum untuk ayam dengan ukuran kecil (proporsi panjang kaki dengan ukuran badan lebih kecil daripada ayam “normal”), terdapat berbagai ras lokal dan ras murni seleksi yang masuk kategori ini
  • Ayam ketawa, ayam (jantan) seleksi dengan suara kokok terputus-putus seperti orang tertawa, diduga pertama kali sengaja diseleksi di Sulawesi Selatan, tetapi sekarang telah tersebar di berbagai tempat.
Untuk lebih lengkapnya tentang PERALATAN KANDANG AYAM yang kami jual
PERALATAN KANDANG AYAM
PERALATAN KANDANG AYAM
Macam Macam Ayam Hias
Kalau kamu punya halaman atau pekarangan yang luas di sekitar rumah, ada baiknya dimanfaatkan untuk memelihara hewan. Salah satunya Ayam Hias. Hewan yang satu ini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Banyak orang yang memelihara di rumahnya sebagai hobi dan bahkan di jadikan bisnis. Sudah jadi rahasia umum, bahwa memiliki hewan peliharaan di rumah bisa menghindarkan kita dari stress.
Ayam hias berbeda dengan ayam biasa yang sering kita makan. Ayam hias memiliki bentuk tubuh yang berbeda dengan ayam potong. Selain itu, ukuran mereka dan warna bulu mereka sangat indah dan unik. Bahkan ada yang suaranya lucu. Oke deh, kita langsung aja bahas beberapa jenis Ayam hias, diantaranya:
Ayam Sumatra merupakan ayam asli Indonesia yang berasal dan berkembang di Sumatra Barat. Oleh karena itu, ayam ini di beri nama ayam sumatra. Ayam sumatra memiliki ciri-ciri, yaitu: perawakannya yang tegap, gagah tapi ukuran tubuhnya kecil. Ayam jantannya memiliki ukuran kepala yang kecil tapi tenggorokannya lebar. Memiliki paruh yang pendek, kukuh dan berwarna hitam. Kupingnya kecil berwarna merah atau hitam.
Ayam kate berperawakan kecil, berkaki pendek dan unik karena memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan ayam biasa, terutama dalam hal keindahan bulu, jengger, penampilan fisik dan tingkah laku. Ada beberapa macam ayam kate, antara lain:
  • Ayam kate lokal
  • Ayam kate batindo
  • Ayam kate Bangkok
  • Ayam kate Emas
  • Ayam kate cochin
  • Ayam kate kaki pedang
Ayam Serama Dulu kita mengenal ayam kate sebagai ayam terkecil di dunia, sekarang gelar itu di ambil oleh ayam serama. Ayam yang berasal dari negeri jiran ini, banyak dikenal dengan sebutan kate serama, padahal ayam serama berbeda dengan ayam kate, ayam serama merupakan ayam yang memiliki bobot lebih kecil dari ayam kate, berat mereka hanya sekitar 8 ons atau 1 kg saja. Sedangkan ayam serama betina hanya berat kurang dari 5 ons.
Ayam ini cukup banyak penggemarnya di Indonesia, selain di karenakan tubuhnya yang mungil tapi juga bentuk tubuhnya yang unik. Yang unik dari ayam ini selain bentuk tubuhnya yang kecil adalah ayam dapat membusungkan dadanya sehingga terlihat gagah, jika dilihat dari foto diatas mereka terlihat seperti huruf “S”.
Poland
Ayam Poland Atau sering juga disebut Black Poland, walaupun namanya memiliki embel-embel polland ternyata ayam ini tidk berasal dari polandia, kampung halaman ayam ini ialah russia. Mereka ini merupakan jenis ayam yang unik karena bentuk mereka yang sering menjadi sorotan banyak orang warnanya hitam mulus, ayam jantan punya jengger seperti tanduk atau berbentuk V dan berwarna merah cerah, dibelakang jengger ada jambul atau bulu mahkota yang panjang, lebat dan kaku yang berwarna putih. Jengger ayam betina tidak nampak karena tertutup bulu mahkota yang berbentuk kribo.
Dibeberapa negara ayam ini sering dijadikan ayam lomba, dimana keunikan bentuk mereka yang menajdi penilaiannya, makin cantik bentuk jambul mereka maka makin bagus penilaian dari juri – juri. Sebagai ayam hias maka memang jarang sekali ayam polland dijadikan ayam potong, tetapi membudidayakan mereka tergolong sulit karena beberapa kasus ayam polland sering membunuh anaknya sendiri yang baru menetas.
Cemani
Ayam cemani merupakan jenis ayam yang berkembang di daerah Magelang dan Temanggung, Jawa tengah. Namun, saat ini ayam cemani sudah tersebar di berbagai daerah Indonesia. Karena warna mereka yang hitam pekat maka banyak orang melambangkan ayam setan kepada ayam ini, tetapi ayam cemani juga mitosnya dipercaya sebagai ayam yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit sehingga ayam ini banyak diburu oleh orang banyak.
Hutan
Ayam hutan sendiri memiliki beragam jenis, yaitu:
  1. Ayam Hutan Kelabu atau Gallus sonneratii. Ayam ini berukuran sedang, ayam jantan dengan panjang sekitar 80cm. Ayam betina berukuran lebih kecil, dengan panjang sekitar 38cm. Ayam hutan jantan memiliki bulu-bulu leher, tengkuk dan mantel berwarna kelabu berbintik hitam-putih dengan kulit muka merah, bercak putih di telinga, paruh kuning kecoklatan, iris mata kuning. Ekor hitam keunguan dengan bulu tengah ekor yang panjang dan melengkung ke bawah. Sisi bawah tubuh berwarna kelabu bergaris putih dan kakinya berwarna kuning kemerahan terang dengan sebuah taji. Ayam hutan kelabu tersebar dan endemik di hutan tropis bercuaca kering di India bagian tengah, barat dan selatan. Ayam betina biasanya menetaskan antara tiga sampai lima butir telur berwarna putih atau putih kemerahan yang dierami oleh induk betina selama kurang lebih tiga minggu.
  2. Ayam Hutan Hijau atau Gallus Various. Ayam jantan memiliki ukuran panjang sekitar 70 cm dan berat badannya sekitar 0,7-1,5 kg. Bulu dada hitam berbaur hijau mengkilap dengan ujung ke kuning-kuningan, bulu ekor panjang melengkung, berwarna hitam. Bulu leher kecil-kecil, merah kekuning-kuningan, jengger bulat rata, pial tunggal dan bunyi kokoknya ce-ki-krek. Ayam hutan hijau betina memiliki ciri panjang kira-kira 40 cm, bulunya kuning pucat, beratnya 0;5 – 0,8 Kg dan produksi telur 3 – 5 butir/ musim.
  3. Ayam hutan Merah atau Gallus-gallus. Ayam hutan merah merupakan jenis ayan hutan yang penyebarannya cukup luas, antara lain di Indonesia, China, dan India. Jenis ayam ini memiliki 5 sub spesies, antara lain: gallus-gallus di Sumatra dan Sulawesi dan gallus-gallus bankiva di Pulau Jawa dan Madura. Sedangkan ketiga spesies lainnya terdapat di luar Indonesia, yaitu di India dan Bangladesh terdapat gallus-gallus murghi, di Myanmar dan vietnam terdapat gallus-gallus spadiceus, dan di China Selatan dan Hainan terdapat gallus-gallus jaboullei. Ayam Hutan Merah (Gallus-gallus bankiva) yang tersebar di pulau Jawa dan Madura mempunyai bobot dewasa jantan 0,7 Kg dan betina 0,4 Kg.
Ayam Batik Walaupun bernama ayam batik tetapi ayam ini bukan berasal dari indonesia, habitat asli mereka berasal dari Eropa yang dikenal juga dengan nama Sebrict Bantam di Inggris, banyak orang juga mengira ini adalah ayam yang berasal dari italia tetapi itu pun salah kampung halaman ayam ini adalah inggris. Warna bulunya berukir-ukir seperti batik dengan motif sisik ikan yang jelas dan rapih. Memiliki warna dasar coklat kemerahan atau kekuningan dan disebut Batik Kanada, serta yang berwarna dasar putih keperakan disebut Batik Italy. Bukan hanya di indonesia, ayam ini juga telah memikat hati banyak orang di dunia sehingga penyebaran ayam ini telah meluas ke seluruh dunia.
Khusus untuk pembahasan KANDANG AYAM MODERN
KANDANG AYAM MODERN
KANDANG AYAM MODERN
Ayam bekisar merupakan hewan khas Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, jenis ayam yang menjadi kebanggan orang yang berasal dari jawa timur. Ayam bekisar merupakan jenis ayam hasil persilangan antara ayam kampung betina dengan ayam hutan hijau. Ciri-ciri khusus dari ayam bekisar yang paling menonjol adalah bentuk bulu leher yang ujungnya bulat / lonjong bukan lancip. Jika dibandingkan dengan ayam jago biasa maka akan terlihat jelas. Warna bulunya lebih indah, berdasarkan warna bulunya ada 3 jenis ayam bekisar:
  • Ayam Bekisar Putih
  • Ayam Bekisar Hitam
  • Ayam Bekisar Multi Warna
Ayam balenggek merupakan jenis ayam yang berasal dari kabupaten Solok, Sumatra Barat. Ayam ini sangat pandai dalam berkokok dengan suara merdu yang iramanya bersusu-susun, panjang sampai terdiri dari 6 hingga 14 suku kata. Jenis ayam ini dibedakan menjadi 3 macam, berdasarkan bentuk fisiknya, atara lain:
  • Yungkilok Gadang
  • Ratiah
  • Randah Batu
Ayam Pelung merupakan ayam lokal asli Indonesia yang berkembang di daerah Cianjur dan Sukabumi Jawa Barat. Ciri-cirinya: bertubuh besar, tegap dan saat berdiri tegak temboloknya tampak menonjol. Kakinya panjang dan kuat dengan paha yang berdaging tebal. Ayam jantannya memiliki wilah yang besar, tegak, bergerigi dan berwarna merah cerah sedangkan pada ayam betina tidak berkembang dengan baik.
Ayam nunukan merupakan jenis ayam yang berkembang di Pulau Tarakan, Kalimantan Timur dan diduga berasal dari China. Ayam ini memiliki ciri-ciri, antara lain: Bulu sayap dan ekornya tidak dapat berkembang dengan sempurna, warna bulunya merah cerah atau merah kekuning-kuningan, kaki dan paruhnya kuning atau putih kekuning-kuningan, serta pial dan jenggernya berwarna merah cerah. Anakan ayam nunukan yang berumur 45 hari cenderung berbulu kapas. Berat badan ayam jantan dewasa 3,4 – 4,2 kg dan betina 1,6 – 1,9 kg. Produksi telur per tahun sekitar 120 -130 butir dengan berat per butir sekitar 40 – 60 gram.
Ayam Ketawa Seperti namanya ayam ini memang memiliki suara seperti orang yang sedang tertawa, suaranya yang khas menjadikan ayam ini sebagai ayam aduaan, kategori suara mereka terbagi menjadi 3 pertama suara ketawa gretek, suara dangdut dan suara slow. tetapi untuk kalian yang ingin memelihara mereka untuk dijadikan binatang hias dirumah ayam ini tepat untuk kalian pilih selain suaranya khas ayam ini juga akan menjadi sorotan banyak orang.
Ayam Onagodari  ini berasal dari Jepang, mereka memiliki 2 warna bulu berwarna putih bersih dan ada juga yang berwarna hitam. Keunikan dari ayam ini ialah ekor mereka yang merumbai-rumbai panjang, panjang ekor ayam ini bisa mencapai 1,5 meter sehingga kalian perlu kandang yang cukup istimewa panjang untuk memelihara mereka. Di jepang sendiri ayam ini memiliki gelar terhormat karena kaisar jepang tertarik untuk memilihara ayam onagodari di kediamannya. Mereka termasuk ayam manja, karena jika kalian tidak memberikan pakan yang biasa dimakan maka ayam ini akan mogok pakan, sungguh ayam yang unik.
Ayam Kapas Kemungkinan berasal dari China, memiliki bulu seperti kapas yang mengembang berdiri sehingga tampak besar dari kejauhan. Warna bulunya putih, dibelakang jengger terdapat jambul yang tumbuhnya mengarah ke belakang. Bobot ayam jantan 0,8 kg dan betina 0,6 kg.Bulu mereka yang panjang memang berfungsi untuk menjaga tubuh mereka tetap hangat saat iklim ekstrim di china yang terkadang datang tiba-tiba. Sama seperti ayam poland karena keunikan bulu, ayam ini sering dijadikan ayam lomba di beberapa negara.
Ayam Cochin ini merupakan ayam yang berasal dari china tetapi berkembang di inggris, selain inggris ayam ini juga banyak di ternak di prancis oleh pengembang asal vietnam. Ayam hias yang memiliki keunikan karena terdapat banyak bulu dikakinya jadi nampak seperti ayam yang menggunakan sepatu bulu. Banyak orang mengatakan bahwa mudah untuk merawat mereka terlebih sama seperti ayam lain mereka hanya perlu diberi pakan jagung dan mereka biasa mencari makan sendiri di rerumputan.
Demikianlah beberapa jenis Ayam dari belahan dunia. Silakan mengkoleksi ayam ayam tersebut sebelum punah.
Setelah diatas kita membedah tentang ayam sekarang waktunya untuk membedah tentang kandang ayam
KANDANG AYAM bagaimana model kandang ayam yang baik dan benar ?…Model kandang ayam tergantung dari jenis dan fungsi dari ayam itu sendiri, karna setiap ayam berbeda fungsi dan kegunaan untuk hidup kita, kami disini hanya akan membahas jenis kandang ayam pedaging dan petelur modern, karna kebutuhan ayam pedaging dan petelur sangat membantu kebutuhan pangan dalam kehidupan kita sehari hari :
Khusus untuk pembahasan KANDANG AYAM PEDAGING

KANDANG AYAM PEDAGING
KANDANG AYAM PEDAGING
Kandang Ayam Modern khusus Ayam Pedaging , Ayam Potong atau Ayam Petelur
Ditengah persaingan yang tinggi, maka effisiensi dan penekanan biaya menjadi hal yang harus dilakukan, salah satunya dengan menciptakan kandang yang lebih ekonomis serta berdaya tahan lama, serta effisien.
Salah satu inovasi adalah kandang ayam pedaging atau ayam potong bertingkat, dengan sistem full otomatis dari feeding system, nippple system maupun penanganan kotoran.
Keuntungan kandang ini  adalah sangat effisien tempat, karena dalam satu kandang bisa dibuat sampai 6 tingkat, sebagai contoh untuk ukuran 12 x 120 m, jika dibuat 3 tingkat bisa menampung sampai 48 ribu ayam, hampair 3 kali lipat kandang biasa dengan asumsi afkir 2 kg.
Kalau dilihat biaya equipment per ekor ayam sistem ini memang lebih mahal dengan sistem yang ada sekarang ini, akan tetapi kalau dihitung secara keseluruhan termasuk biaya pembuatan bangunan kandang sistem ini jauh lebih murah, sebagaimana yang disampaikan kontraktor bangunan kandang untuk membuat kandang dengan kontruksi baja sekarang ini biayanya sekitar Rp. 1.500.000/m2.
Merencanakan Pembangunan Kandang dan Peralatannya
Kandang merupakan salah satu komponen yang ikut menentukan keberhasilan usaha peternakan. Jika tidak direncanakan dan dirancang dengan baik, kandang bisa mempengaruhi performa ayam ke depannya. Contohnya, ketika kandang dibuat terlalu lebar (> 7 meter), padahal lebar kandang yang direkomendasikan tidak lebih dari 7 meter. Imbasnya kenyamanan ayam akan terganggu karena semakin lebar kandang, ayam akan semakin sulit mendapatkan udara segar akibat sirkulasi atau pergerakan udara yang lambat. Jika sudah seperti ini, peternak tidak mungkin membongkar kandang dan membangun ulang, melainkan harus mengeluarkan uang lebih untuk menambahkan kipas angin (fan).
Selain kandang, peternak juga perlu menyediakan peralatan kandang “sekomplit” mungkin agar semua kebutuhan ayam, terutama ransum dan air minum, bisa dipenuhi dengan baik.
Kenyamanan Sebagai Kunci Awal Perencanaan Pembangunan Kandang
Pada prinsipnya, kandang yang baik adalah kandang yang sederhana, biaya pembuatannya murah, dan memenuhi persyaratan teknis (Martono, 1996). Namun dari semua unsur itu, intinya kandang harus dibuat senyaman mungkin untuk ayam.
Kandang yang nyaman adalah kunci utama untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas yang optimal. Di dalam kandang ini semua kebutuhan untuk tumbuh harus tersedia, di antaranya ransum dan air minum yang cukup serta berkualitas, sistem ventilasi udara yang baik, serta suhu dan kelembaban udara yang optimal.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mendirikan kandang, antara lain menyangkut:
  • Jenis usaha
Kandang yang akan dibangun harus disesuaikan dengan jenis ternak, apakah ternak ayam potong/pedaging, ayam petelur, atau jenis ayam lainnya.
  • Skala usaha
Semakin besar skala usaha, maka semakin banyak dan luas pula kandang yang harus dibangun.
  • Modal
Modal yang tersedia akan berpengaruh terhadap jenis bahan bangunan yang digunakan, tipe kandang, besar kandang, konstruksi, dan skala usaha.
Memilih Lokasi yang Tepat
Pemilihan lokasi kandang yang tepat merupakan “pondasi awal” untuk membangun peternakan yang baik dan nyaman. Dalam pemilihan lokasi ini hendaknya mempertimbangkan:
  • Kondisi suhu dan kelembaban lingkungan apakah sesuai untuk karakter ayam yang mudah mengalami heat stress (stres panas).
  • Topografi dan tekstur tanah serta sumber air.
  • Luas lahan yang disesuaikan dengan target pengembangan peternakan.
  • Akses transportasi dan instalasi listrik.
  • Jarak dengan pemukiman warga, baik saat ini maupun alokasi wilayah tersebut di masa mendatang.
  • Perizinan: Usahakan ada bukti resmi tentang pembangunan peternakan untuk menghindari penggusuran atau penutupan peternakan. Perizinan ini meliputi surat persetujuan dari masyarakat sekitar, rekomendasi dari desa, izin pemerintah kota atau kabupaten, izin mendirikan bangunan dan AMDAL, surat izin usaha dan surat izin gangguan (Hinder Ordo-nantie/HO).
  • Jarak dengan peternakan lain: Environmental Code of Practice for Poultry Farm in Western Australia (2004) mempersyaratkan jarak antar peternakan hendaknya minimal 500 m. Namun di Indonesia, di mana kandang kebanyakan menggunakan sistem open house (kandang terbuka), direkomendasikan jarak antar peternakan minimal 1 km.
Menentukan Skala Usaha/Populasi Ayam
Setelah mendapatkan lokasi yang strategis, bagaimana menentukan kapasitas kandang ayam yang tepat? Kapasitas kandang sebaiknya ditentukan sesuai standar kepadatan ayam dewasa yang ideal, yaitu 15 kg/m2, atau setara dengan 6-8 ekor ayam pedaging dan 12-14 ekor ayam petelur grower (pullet) per m2 nya.
Contohnya kandang yang akan dibuat berukuran 25 x 7 m. Berdasarkan standar kepadatan tadi, maka pada kandang ukuran tersebut (luas kandang = 175 m2), idealnya diisi dengan 1050-1400 ekor ayam pedaging, atau 2100-2450 ekor ayam petelur.
Memilih tipe kandang
Tipe kandang pada dasarnya dapat dibedakan berdasarkan beberapa faktor, yaitu konstruksi, penempatan ayam dalam kandang, dan fase pemeliharaan ayam. Berdasarkan konstruksinya, terdiri dari:
  • Konstruksi atap
Berdasarkan konstruksi atapnya, kandang dibagi menjadi beberapa tipe yaitu:
Berbagai tipe dan bentuk atap di atas ikut mempengaruhi lancar tidaknya sirkulasi udara dalam kandang. Untuk ayam pedaging dan petelur komersial modern yang dipelihara di daerah tropis, sebaiknya peternak memilih tipe atap monitor karena mempunyai kecepatan sirkulasi udara lebih tinggi.
  • Konstruksi dinding
Jenis kandang berdasarkan konstruksi dinding dapat dibedakan menjadi kandang terbuka (open house), kandang semi tertutup (semi closed house) dan kandang tertutup (closed house).
Kandang sistem terbuka merupakan kandang yang dindingnya terbuka biasanya terbuat dari kayu atau bambu. Kandang tipe closed house merupakan kandang dengan dinding tertutup dan biasanya terbuat dari bahan-bahan permanen dan dengan sentuhan teknologi tinggi sehingga biaya pembuatannya tidak murah. Sedangkan kandang semi closed house adalah gabungan dari sistem open house dan closed house. Dinding kandang tipe ini ditutupi oleh tirai yang bisa dibuka, akan tetapi sudah menggunakan bahan-bahan permanen dan peralatan berteknologi modern.
Khusus untuk pembahasan KANDANG AYAM PETELUR
KANDANG AYAM PETELUR
KANDANG AYAM PETELUR
  • Konstruksi lantai
Berdasarkan konstruksi/bentuk lantainya, tipe kandang dibedakan menjadi 2 yaitu:
  1. Kandang lantai rapat (litter) atau postal
  2. Kandang lantai renggang
  • Cage/battery system atau kandang baterai: kandang berupa kotak sangkar yang terbuat dari kawat atau anyaman bambu
  • Wire floor system: lantai kandang terbuat dari anyaman kawat ram
  • Slat floor system atau kandang panggung (slat): lantai kandang menggunakan bahan berupa bilah-bilah seperti kayu, logam, bambu, atau plastik, yang disusun memanjang sehingga lantai bercelah-celah. Lebar celah 2,5 cm dan lebar bilah 2,5 cm dengan ketebalan 2,5 cm. Panjang disesuaikan dengan kebutuhan.
  1. Kombinasi antara bentuk postal dan bentuk panggung.
Berdasarkan jumlah ayam yang ditempatkan dalam kandang, sistem perkandangan dibedakan menjadi 3, yaitu:
  1. Kandang tunggal atau single cage/battery: setiap sangkar berisi 1 ekor
  2. Kandang ganda atau multiple cages: setiap sangkar berisi 2-10 ekor
  3. Kandang koloni atau colony cages: setiap sangkar berisi satu kelompok ayam dalam jumlah besar, lebih dari 20 ekor.
Berdasarkan fase pemeliharaan ayam, kandang dibedakan menjadi 3:
  1. Kandang indukan (brooder), untuk memelihara anak ayam umur 0-2 minggu (ayam pedaging) dan 0-3 minggu (ayam petelur).
  2. Kandang grower/pullet, untuk membesarkan anak ayam dan ayam dara umur 4-16 minggu. Biasanya digunakan kandang lantai litter.
  3. Kandang layer, untuk memelihara ayam petelur periode produksi umur 18 minggu sampai afkir. Biasanya menggunakan kandang baterai (battery).
Menentukan Layout (Tata Letak) Kandang
Idealnya, dalam suatu peternakan, calon peternak tidak hanya mendirikan kandang saja. Namun perlu dilengkapi dengan pos jaga, tempat parkir, kantor, gudang ransum, mess pegawai, dan bangunan pendukung lainnya. Penentuan letak atau posisi kandang maupun bangunan pendukung tersebut hendaknya dilakukan secara baik. Tujuannya agar alur distribusi ayam, personal (manusia), ransum maupun peralatan bisa berjalan efektif.
Tata letak ini juga merupakan bagian dari biosecurity (biosecurity konseptual), karena bisa berperan menekan rantai penularan penyakit. Sangat disarankan di satu lokasi peternakan mengaplikasikan sistem one age farming atau all in all out (dalam 1 lokasi peternakan hanya terdiri dari 1 jenis ayam dengan umur dan strain yang sama), karena lebih memudahkan dalam monitoring pemeliharaan ternak secara seragam. Selain itu kemungkinan terjadinya penularan penyakit akibat variasi umur ternak juga lebih kecil.
Namun jika peternak terpaksa tidak bisa menerapkan sistem pemeliharaan all in all out, maka jarak kedatangan antar DOC sebaiknya jangan terlalu lama (kurang dari 1 minggu). Jika waktu tersebut tidak dapat dipenuhi maka saat chick in perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
  • DOC yang berbeda umur atau waktu kedatangan jangan dipelihara dalam kandang brooder (indukan) yang sama
  • Jarak antar kandang ayam yang berbeda umur sebaiknya minimal 7 m (1 x lebar kandang)
  • Arus distribusi personal maupun peralatan antar kandang dengan umur dan jenis ayam yang berbeda dibatasi, terutama pada saat masa DOC (starter) dan apabila terjadi outbreak penyakit
  • Jadwal monitoring sebaiknya dimulai dari ayam umur muda ke ayam berumur lebih tua (dewasa)
  • Lakukan program desinfeksi secara rutin pada masing-masing kandang dengan menggunakan Antisep, Neo Antisep, Medisep, atau Zaldes
  • Program vaksinasi dibuat sama untuk semua kandang ayam
Bangunan dan Struktur Kandang yang Baik
Konstruksi kandang yang baik rata-rata bisa bertahan 10 – 20 tahun. Prinsipnya, kandang harus dibuat dari bahan yang kuat dan tahan lama. Untuk bagian tiangnya bisa memakai balok kayu. Untuk penyangga atapnya bisa dari bilah bambu atau kayu. Sedangkan dindingnya bisa memakai anyaman bilah bambu atau kawat kasa. Untuk sekat-sekat kandangnya bisa memakai bilah bambu, lembaran seng, atau lembaran triplek.
Sedangkan beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait struktur kandang yang baik, di antaranya:
  1. Lebar kandang
Lebar kandang terbuka sebaiknya tidak lebih dari 7 m agar sirkulasi udara optimal. Jika lebih dari 7 m sebaiknya ditambahkan atap monitor maupun fan atau blower di tengah kandang. Jarak antar kandang minimal 1 x lebar kandang dan usahakan di antara kandang itu tidak terdapat tanaman yang bisa mengganggu sirkulasi udara.
  1. Tinggi lantai
Ketinggian lantai idealnya ≥ 1,5 m sehingga sirkulasi udara baik dan mempermudah proses pembersihan serta desinfeksi kandang.
  1. Atap
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan terkait atap ini. Pertama, bahan yang digunakan. Umumnya atap kandang menggunakan genting, alumunium, asbes atau seng. Pemilihan bahan atap ini hendaknya memperhatikan suhu lingkungan, ketahanan dan biaya. Penggunaan atap dari seng menjadi kurang efektif untuk daerah dengan suhu panas karena bisa memicu heat stress (stres panas). Kedua, derajat kemiringan dan jarak atap dengan lantai kandang. Kemiringan atap yang direkomendasikan ialah 30-35o. Ketiga, jarak atap dan lantai kandang yang optimal ialah 2,5 – 3 m.
Khusus untuk pembahasan KANDANG AYAM POTONG

KANDANG AYAM PEDAGING
KANDANG AYAM PEDAGING
Menyiapkan Peralatan Kandang
Selain kandang, peralatan kandang juga menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari konstruksi kandang. Peralatan ini akan mendukung terwujudnya kandang yang nyaman. Secara umum peralatan kandang terdiri dari tempat ransum, tempat minum, pemanas, lampu untuk pencahayaan, sprayer untuk pembersihan dan desinfeksi kandang serta peralatan, keranjang ayam, timbangan, egg tray, dan alat suntik. Untuk kebutuhan tempat ransum dan tempat minum sendiri, contohnya dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2.
Usahakan agar jumlah tempat ransum (TRA) dan tempat minum (TMA) tidak kurang dari kebutuhan agar menekan terjadinya persaingan antar ayam baik dalam hal ransum, air minum maupun ruang gerak. Atur pula agar tinggi piringan tempat ransum ayam (TRA) setinggi punggung ayam. Di lapangan tak jarang pengaturan jumlah, distribusi, serta ketinggian TRA yang tidak disesuaikan dengan umur dan kepadatan ayam, justru menurunkan konsumsi ayam.
Peralatan lainnya seperti pemanas wajib disediakan sebagai penghangat anak ayam di masa brooding. Beragam bahan bakar dapat digunakan peternak untuk menghidupkan pemanas di masa brooding. Bahan bakar yang lazim digunakan di antaranya gas, kayu bakar, batu bara, dan minyak tanah.
Pemanas berbahan kayu bakar dan batu bara secara ekonomi memang tergolong murah, namun memiliki kelemahan, yaitu sulit diatur suhunya serta menghasilkan asap yang dikhawatirkan mengganggu kesehatan ayam. Sedangkan pemanas berbahan bakar gas, secara ekonomi memang lebih mahal harganya, namun mudah dioperasikan, aman dan tahan lama (awet). Panas yang dihasilkan pun stabil, terfokus, tidak menimbulkan polusi suara maupun udara (asap), serta suhunya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Lebih efisiennya pemanas berbahan bakar gas karena pemanas jenis ini memiliki regulator yang memungkinkan energi panas diatur sesuai kondisi dan kebutuhan ayam. Contoh pemanas gas produksi Medion adalah Indukan Gas Medion (IGM).
Selain pemanas, peralatan yang juga penting disediakan ialah timbangan. Baik ayam pedaging maupun petelur, penimbangan berat badan dapat dilakukan secara rutin tiap minggu dan saat panen. Penimbangan rutin tiap minggu dinamakan pula kontrol berat badan. Sebaiknya gunakan timbangan yang memiliki sensitivitas lebih tinggi agar berat badan ayam per individu dapat lebih teliti diamati.
Ada dua model timbangan yang dapat digunakan sesuai kebutuhan yaitu:
  • Timbangan gantung
Model timbangan ini paling sering digunakan untuk menimbang ayam karena memiliki beberapa kelebihan antara lain lebih praktis, ringan dan mudah dibawa. Lebih praktis karena bisa digunakan untuk menimbang berat badan ayam langsung maupun menggunakan keranjang. Hanya saja, saat menimbang ayam harus diikat kakinya terlebih dahulu agar memudahkan penggantungan ayam.
  • Timbangan duduk
Timbangan duduk cocok untuk mengurangi kematian dan meminimalisir resiko afkir saat penimbangan akibat patah sayap atau kaki. Metodenya ialah timbang keranjang dahulu untuk menentukan berat keranjang, baru kemudian keranjang diisi dengan ayam.
Peralatan berikutnya yaitu keranjang ayam yang dibutuhkan saat pengangkutan ayam pedaging ketika panen dan pemindahan ayam petelur dari kandang pembesaran ke kandang baterai. Saat panen, keranjang ayam diisi 15 ekor ayam (atau tergantung besar ayam dan kapasitas keranjang ayam). Tujuannya untuk menghindari kematian akibat ayam berdesakan dalam keranjang.
Khusus untuk pembahasan KANDANG AYAM komplit
KANDANG AYAM
KANDANG AYAM
Demikian informasi terkait kandang yang dapat kami berikan. Kandang merupakan tempat tinggal ayam dalam melakukan semua aktivitasnya. Mulai dengan makan, minum, dan tentu saja tumbuh maupun menghasilkan telur. Untuk itu, kita sebagai calon peternak perlu memperhatikan kenyamanan kandang dengan merencanakan pembangunan kandang yang baik. Semoga bermanfaat.
Demikianlah pembahasan tentang Ayam dan Kandang Ayam Modern jenis Close House, Untuk informasi lengkap silakan hubungi Alamat dan no telepon di website ini. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membacanya, artikel ini kami ambil dari beberapa sumber termasukWikipedia
Briquettes
A briquette (or briquet) is a compressed block of coal dust or other combustible biomass material such as charcoal, sawdust, wood chips,  peat, or paper used for fuel and kindling to start a fire. The term comes from the French language and is related to brick.
Constituents of charcoal briquettes
Charcoal briquettes sold for cooking food can include:[3][4]
·         Wood charcoal (fuel)
·         Lignite coal (fuel)
·         Anthracite coal (fuel)
·         Limestone (ash colourant)
·         Starch (binder)
·         Borax (release agent)
·         Sodium nitrate (accelerant)
·         Sawdust
·         Wax (some brands: binder, accelerant, ignition facilitator).
·         Chaff (rice chaff and peanut chaff)
Some briquettes are compressed and dried brown coal extruded into hard blocks. This is a common technique for low rank coals. They are typically dried to 12-18% moisture, and are primarily used in household and industry.
Peat briquettes
In Ireland, peat briquettes are a common type of solid fuel, largely replacing sods of raw peat as a domestic fuel. These briquettes consist of shredded peat, compressed to form a virtually smokeless, slow-burning, easily stored and transported fuel. Although often used as the sole fuel for a fire, they are also used to quickly and easily light a coal fire.
Biomass briquettes
Biomass briquettes are made from agricultural waste and are a replacement for fossil fuels such as oil or coal, and can be used to heat boilers in manufacturing plants, and also have applications in developing countries. Biomass briquettes are a renewable source of energy and avoid adding fossil carbon to the atmosphere.
A number of companies in India have switched from furnace oil to biomass briquettes to save costs on boiler fuels. The use of biomass briquettes is predominant in the southern parts of India, where coal and furnace oil are being replaced by biomass briquettes. A number of units in Maharashtra (India) are also using biomass briquettes as boiler fuel. Use of biomass briquettes can earn Carbon Credits for reducing emissions in the atmosphere. Lanxess India and a few other large companies are supposedly using biomass briquettes for earning Carbon Credits by switching their boiler fuel. Biomass briquettes also provide more calorific value/kg and save around 30-40 percent of boiler fuel costs.
A popular biomass briquette emerging in developed countries takes a waste produce such as sawdust, compresses it and then extrudes it to make a reconsistuted log that can replace firewood. It is a similar process to forming a wood pellet but on a larger scale. There are no binders involved in this process. The natural lignin in the wood binds the particles of wood together to form a solid. Burning a wood briquette is far more efficient than burning firewood. Moisture content of a briquette can be as low as 4%, whereas green firewood may be as high as 65%.
The extrusion production technology of briquettes is the process of extrusion screw wastes (straw, sunflower husks, buckwheat, etc.) or finely shredded wood waste (sawdust) under high pressure when heated from 160 to 350 C °. As shown in the table above the quality of such briquets, especially heat content, is much higher comparing with other methods like using piston presses.

Sawdust briquettes have developed over time with two distinct types: those with holes through the centre, and those that are solid. Both types are classified as briquettes but are formed using different techniques. A solid briquette is manufactured using a piston press that compresses sandwiched layers of sawdust together. Briquettes with a hole are produced with a screw press. The hole is from the screw thread passing through the centre, but it also increases the surface area of the log and aids efficient combustion.
Use in China
Throughout China, cylindrical briquettes, called "fēng wō méi" (beehive coal 蜂窩煤 / 窝煤) or "Mei" (coal ) or "liàn tàn" (kneaded coal 練炭 / 练炭), are used in purpose-built cookers. The origin of "Mei" is "Rentan" (kneaded coal 練炭) of Japan. Rentan was invented in Japan in the 19th century, and spread to Manchukuo, Korea and China in the first half of the 20th century. There were many Rentan factories in Manchukuo and Pyongyang. Although Rentan went out of use in Japan after the 1970s, it is still popular in China, Korea ("yeon tan" kneaded coal 연탄) and Vietnam ("than" coal).
The cookers are simple, ceramic vessels with metal exteriors. Two types are made: the single, or triple briquette type, the latter holding the briquettes together side by side. These cookers can accommodate a double stack of cylinders. A small fire of tinder is started, upon which the cylinder(s) is placed. When a cylinder is spent, another cylinder is placed on top using special tongs, with the one below igniting it. The fire can be maintained by swapping spent cylinders for fresh ones, and retaining a still-glowing spent cylinder.
Each cylinder lasts for over an hour. These cookers are used to cook, or simmer, pots of tea, eggs, soups, stews, etc. The cylinders are delivered, usually by cart, to businesses, and are very inexpensive.
Paper briquettes
Paper briquettes are the byproduct of a briquettor, which compresses shredded paper material into a small cylindrical form. Briquettors are often sold as add-on systems to existing disintegrator or rotary knife mill shredding systems. The NSA has a maximum particle size regulation for shredded paper material that is passed through a disintegrator or rotary knife mill, which typically does not exceed 1/8” square.[5] This means that material exiting a disintegrator is the appropriate size for compression into paper briquettes, as opposed to strip-cut shredders which produce long sheets of paper.
After being processed through the disintegrator, paper particles are typically passed through an air system to remove dust and unwanted magnetic materials before being sent into the briquettor. The air system may also be responsible for regulating moisture content in the waste particles, as briquetting works optimally within a certain range of moisture. Studies have shown that the optimal moisture percentage for shredded particles is 18% for paper and 22% for wheat straw.[6]
Environmental Impact
Briquetted paper has many notable benefits, many of which minimize the impact of the paper waste generated by a shredding system. Several manufactures claim up to 90% volume reduction of briquetted paper waste versus traditional shredding. Decreasing the volume of shredded waste allows it to be transported and stored more efficiently, reducing the cost and fuel required in the disposal process.
In addition to the cost savings associated with reducing the volume of waste, paper briquettes are more useful in paper mills to create recycled paper than uncompressed shredded material. Compressed briquettes can also be used as a fuel for starting fires or as an insulating material.
Charcoal
Charcoal is a light, black residue, consisting of carbon and any remaining ash, obtained by removing water and other volatile constituents from animal and vegetation substances. Charcoal is usually produced by slow pyrolysis, the heating of wood or other substances in the absence of oxygen (see char and biochar). It is usually an impure form of carbon as it contains ash; however, sugar charcoal is among the purest forms of carbon readily available, particularly if it is not made by heating but by a dehydration reaction with sulfuric acid to minimise the introduction of new impurities, as impurities can be removed from the sugar in advance. The resulting soft, brittle, lightweight, black, porous material resembles coal
History
Historically, production of wood charcoal in locations where there is an abundance of wood dates back to a very ancient period, and generally consists of piling billets of wood on their ends so as to form a conical pile, openings being left at the bottom to admit air, with a central shaft to serve as a flue. The whole pile is covered with turf or moistened clay. The firing is begun at the bottom of the flue, and gradually spreads outwards and upwards. The success of the operation depends upon the rate of the combustion. Under average conditions, 100 parts of wood yield about 60 parts by volume, or 25 parts by weight, of charcoal; small-scale production on the spot often yields only about 50%, large-scale was efficient to about 90% even by the seventeenth century. The operation is so delicate that it was generally left to colliers (professional charcoal burners). They often lived alone in small huts in order to tend their wood piles. For example, in the Harz Mountains of Germany, charcoal burners lived in conical huts called Köten which are still much in evidence today[when?].
The massive production of charcoal (at its height employing hundreds of thousands, mainly in Alpine and neighbouring forests) was a major cause of deforestation, especially in Central Europe. In England, many woods were managed as coppices, which were cut and regrew cyclically, so that a steady supply of charcoal would be available (in principle) forever; complaints (as early as the Stuart period) about shortages may relate to the results of temporary over-exploitation or the impossibility of increasing production to match growing demand. The increasing scarcity of easily harvested wood was a major factor behind the switch to fossil fuel equivalents, mainly coal and brown coal for industrial use.
The use of charcoal as a smelting fuel has been experiencing a resurgence in South America following Brazilian law changes in 2010 to reduce carbon emissions as part of President Lula da Silva's commitment to make a "green steel".[2][3]
The modern process of carbonizing wood, either in small pieces or as sawdust in cast iron retorts, is extensively practiced where wood is scarce, and also for the recovery of valuable byproducts (wood spirit, pyroligneous acid, wood tar), which the process permits. The question of the temperature of the carbonization is important; according to J. Percy, wood becomes brown at 220 °C (428 °F), a deep brown-black after some time at 280 °C (536 °F), and an easily powdered mass at 310 °C (590 °F).[4] Charcoal made at 300 °C (572 °F) is brown, soft and friable, and readily inflames at 380 °C (716 °F); made at higher temperatures it is hard and brittle, and does not fire until heated to about 700 °C (1,292 °F).
In Finland and Scandinavia, the charcoal was considered the by-product of wood tar production. The best tar came from pine, thus pinewoods were cut down for tar pyrolysis. The residual charcoal was widely used as substitute for metallurgical coke in blast furnaces for smelting. Tar production led to rapid deforestation: it has been estimated all Finnish forests are younger than 300 years. The end of tar production at the end of the 19th century resulted in rapid re-forestation.
The charcoal briquette, made commercially using mostly compressed coal dust, was first invented and patented by Ellsworth B. A. Zwoyer of Pennsylvania in 1897[5] and was produced by the Zwoyer Fuel Company. The process was further popularized by Henry Ford, who used wood and sawdust byproducts from automobile fabrication as a feedstock. Ford Charcoal went on to become the Kingsford Company.
Production methods
Charcoal has been made by various methods. The traditional method in Britain used a clamp. This is essentially a pile of wooden logs (e.g. seasoned oak) leaning against a chimney (logs are placed in a circle). The chimney consists of 4 wooden stakes held up by some rope. The logs are completely covered with soil and straw allowing no air to enter. It must be lit by introducing some burning fuel into the chimney; the logs burn very slowly and transform into charcoal in a period of 5 days' burning. If the soil covering gets torn (cracked) by the fire, additional soil is placed on the cracks. Once the burn is complete, the chimney is plugged to prevent air from entering.[6] The true art of this production method is in managing the sufficient generation of heat (by combusting part of the wood material), and its transfer to wood parts in the process of being carbonised. A strong disadvantage of this production method is the huge amount of emissions that are harmful to human health and the environment (emissions of unburnt methane).[7] As a result of the partial combustion of wood material, the efficiency of the traditional method is low.
Improved methods use a sealed metal container, as this does not require watching lest fire break through the covering.[8] However, on-site attendance is required, and also this method sacrifices part of the material for generating process heat - with the associated low yield. At Bulworthy Project in the UK, charcoal production supports an experiment in low-impact living and nature conservation.[9] Modern methods employ retorting technology, in which process heat is recovered from, and solely provided by, the combustion of gas released during carbonisation. (Illustration:[10]). Yields of retorting are considerably higher than those of kilning, and may reach 35%-40%.
Examples of large industrial, but clean, industrial technologies are the Lambiotte shaft furnace, and the Reichert retort.[11] A recently developed technology is the Condensing Retort developed by Clean Fuels.[12] This latter technology is suitable for medium to large industries.
The last section of the film Le Quattro Volte (2010) gives a good and long, if poetic, documentation of the traditional method of making charcoal.[13] The Arthur Ransome children's series Swallows and Amazons (particularly the second book Swallowdale) features carefully drawn vignettes of the lives and the techniques of charcoal burners at the start of the 20th century, in the Lake District of the UK.
The properties of the charcoal produced depend on the material charred. The charring temperature is also important. Charcoal contains varying amounts of hydrogen and oxygen as well as ash and other impurities that, together with the structure, determine the properties. The approximate composition of charcoal for gunpowders is sometimes empirically described as C7H4O. To obtain a coal with high purity, source material should be free of non-volatile compounds (sugar and a high charring temperature can be used). After charring, partial oxidation with oxygen or chlorine can reduce hydrogen levels. For activation of charcoal see activated carbon.
Common charcoal is made from peat, coal, wood, coconut shell, or petroleum. “Activated charcoal” is similar to common charcoal, but is made especially for use as a medicine. To make activated charcoal, manufacturers heat common charcoal in the presence of a gas that causes the charcoal to develop lots of internal spaces or “pores.” These pores help activated charcoal “trap” chemicals.
Types
Commercial charcoal is found in either lump, briquette, or extruded forms:
·         Lump charcoal is made directly from hardwood material and usually produces far less ash than briquettes.
·         Pillow shaped briquettes are made by compressing charcoal, typically made from sawdust and other wood by-products, with a binder and other additives. The binder is usually starch. Some briquettes may also include brown coal (heat source), mineral carbon (heat source), borax, sodium nitrate (ignition aid), limestone (ash-whitening agent), raw sawdust (ignition aid), and other additives.
·         Hexagonal sawdust briquette charcoal are made by compressing sawdust without binders or additives. Hexagonal Sawdust Briquette Charcoal is the preferred charcoal in countries like Taiwan, Korea, Middle East, Greece. It has a round hole through the center, with a hexagonal intersection. Mainly for barbeque uses as it does not emit odor, no smoke, little ash, high heat, and long burning hours (exceeding 4 hours).
·         Extruded charcoal is made by extruding either raw ground wood or carbonized wood into logs without the use of a binder. The heat and pressure of the extruding process hold the charcoal together. If the extrusion is made from raw wood material, the extruded logs are then subsequently carbonized.[14]
·         Japanese charcoal removes pyroligneous acid during the charcoal making. Therefore, when burning, there are almost no stimulating smells or smoke. The charcoal of Japan is classified into three kinds.
1.       White charcoal (Binchōtan) is very hard and has a metallic sound.
2.       Black charcoal
3.       Ogatan is made from hardened sawdust. It is most often used in Izakaya or Yakiniku restaurants.
The characteristics of charcoal products (lump, briquette, or extruded forms) vary widely from product to product. Thus it is a common misconception to stereotype any kind of charcoal, saying which burns hotter or longer etc
Uses
Charcoal has been used since earliest times for a large range of purposes including art and medicine, but by far its most important use has been as a metallurgical fuel. Charcoal is the traditional fuel of a blacksmith's forge and other applications where an intense heat is required. Charcoal was also used historically as a source of carbon black by grinding it up. In this form charcoal was important to early chemists and was a constituent of formulas for mixtures such as black powder. Due to its high surface area charcoal can be used as a filter, and as a catalyst or as an adsorbent
Metallurgical fuel
Charcoal burns at intense temperatures, up to 2,700 °C (4,890 °F).[verification needed] By comparison the melting point of iron is approximately 1,200 to 1,550 °C (2,190 to 2,820 °F). Due to its porosity it is sensitive to the flow of air and the heat generated can be moderated by controlling the air flow to the fire. For this reason charcoal is an ideal fuel for a forge and is still widely used by blacksmiths. Charcoal is also an excellent reducing fuel for the production of iron and has been used that way since Roman times. In the 16th century England had to pass laws to prevent the country from becoming completely denuded of trees due to production of iron. In the 19th century charcoal was largely replaced by coke, baked coal, in steel making due to cost. Charcoal is a far superior fuel to coke,[verification needed] however, because it burns hotter and has no sulfur. Until World War II charcoal was still being used in Sweden to make ultra high-quality steel. In steel-making, charcoal is not only a fuel, but a source for the carbon in the steel according to some scholars such as Moronda, 2011.
After the 2009 United Nations Climate Change Conference (COP15) in Copenhagen, Denmark, the steel industry in Brazil proposed to replace coal and coke with charcoal in their high temperature furnaces. The program "Green Steel for the Brazilian Steel Industry" converted wood from Eucalyptus plantations into charcoal that will be used in steel making.[16]
Industrial fuel
Historically, charcoal was used in great quantities for smelting iron in bloomeries and later blast furnaces and finery forges. This use was replaced by coke in the 19th Century as part of the Industrial Revolution. For this purpose, charcoal in England was measured in dozens (or loads) consisting of 12 sacks or shems or seams, each of 8 bushels.[citation needed] In 2010, Japan Consulting Institute took an action in search of a better, 'greener', and even cheaper alternative to replace fossil fuels like coke in steelmaking. The research revealed that Palm Kernel Shell charcoal (PKS charcoal) is proven to be a better fuel in Electric arc furnace (EAF) as coke replacement.[17] As auxiliary energy in EAF, in many aspects, PKS charcoal outperforms coke
Cooking fuel
Prior to the industrial revolution charcoal was occasionally used as a cooking fuel. Modern "charcoal briquettes" are widely used for outdoor dutch ovens, grilling, and barbecues in backyards and on camping trips, but the briquettes are not pure charcoal.[19] They are usually a compacted mixture of sawdust with additives like coal or coke and various binders.
Syngas production, automotive fuel
Like many other sources of carbon, charcoal can be used for the production of various syngas compositions; i.e., various CO + H2 + CO2 + N2 mixtures. The syngas is typically used as fuel, including automotive propulsion, or as a chemical feedstock.
In times of scarce petroleum, automobiles and even buses have been converted to burn wood gas (a gas mixture consisting primarily of diluting atmospheric nitrogen, but also containing combustible gasses, mostly carbon monoxide) released by burning charcoal or wood in a wood gas generator. In 1931 Tang Zhongming developed an automobile powered by charcoal, and these cars were popular in China until the 1950s. In occupied France during World War II, wood and wood charcoal production for such vehicles (called gazogènes) increased from pre-war figures of approximately fifty thousand tons a year to almost half a million tons in 1943.[20]
Black powder
Charcoal (in the majority of black powder mixtures, together with sulphur) is the fuel component of black powder and blasting powders and is also used in other pyrotechnic mixtures.[21] This charcoal is usually made from specific softwoods (i.e. willow and grapevine) charred at low temperature.[citation needed]
Carbon source
Charcoal may be used as a source of carbon in chemical reactions. One example of this is the production of carbon disulphide through the reaction of sulfur vapors with hot charcoal. In that case the wood should be charred at high temperature to reduce the residual amounts of hydrogen and oxygen that lead to side reactions.
Purification and filtration
Charcoal may be activated to increase its effectiveness as a filter. Activated charcoal readily adsorbs a wide range of organic compounds dissolved or suspended in gases and liquids. In certain industrial processes, such as the purification of sucrose from cane sugar, impurities cause an undesirable color, which can be removed with activated charcoal. It is also used to absorb odors and toxins in gases, such as air. Charcoal filters are also used in some types of gas masks. The medical use of activated charcoal is mainly the absorption of poisons, especially in the case of suicide attempts in which the patient has ingested a large amount of a drug.[22] Activated charcoal is available without a prescription, so it is used for a variety of health-related applications. For example, it is often used to reduce discomfort (and embarrassment) due to excessive gas (commonly known as a fart or flatulence) in the digestive tract.
Animal charcoal or bone black is the carbonaceous residue obtained by the dry distillation of bones. It contains only about 10% carbon, the remainder being calcium and magnesium phosphates (80%) and other inorganic material originally present in the bones. It is generally manufactured from the residues obtained in the glue and gelatin industries. Its decolorizing power was applied in 1812 by Derosne to the clarification of the syrups obtained in sugar refining; but its use in this direction has now greatly diminished, owing to the introduction of more active and easily managed reagents. It is still used to some extent in laboratory practice. The decolorizing power is not permanent, becoming lost after using for some time; it may be revived, however, by washing and reheating. Wood charcoal also to some extent removes coloring material from solutions, but animal charcoal is generally more effective.[citation needed]
Art
Four sticks of vine charcoal and four sticks of compressed charcoal
Two charcoal pencils in paper sheaths that are unwrapped as the pencil is used, and two charcoal pencils in wooden sheaths
·         Main article: Charcoal
·         Charcoal is used in art for drawing, making rough sketches in painting and is one of the possible media for making a parsemage. It must usually be preserved by the application of a fixative. Artists generally utilize charcoal in three forms:
·         Vine charcoal is created by burning sticks of wood (usually willow or linden/Tilia) into soft, medium, and hard consistencies.
Powdered charcoal is often used to "tone" or cover large sections of a drawing surface. Drawing over the toned areas darkens it further, but the artist can also lighten (or completely erase) within the toned area to create lighter tones.
Compressed charcoal charcoal powder mixed with gum binder compressed into round or square sticks. The amount of binder determines the hardness of the stick.[25] Compressed charcoal is used in charcoal pencils.
Horticulture
One additional use of charcoal was rediscovered recently in horticulture. Although American gardeners have been using charcoal for a short while, research on Terra preta soils in the Amazon has found the widespread use of biochar by pre-Columbian natives to turn unproductive soil into carbon rich soil. The technique may find modern application, both to improve soils and as a means of carbon sequestration.
Medicine
Charcoal was consumed in the past as dietary supplement for gastric problems in the form of charcoal biscuits. Now it can be consumed in tablet, capsule or powder form, for digestive effects.[citation needed] Research regarding its effectiveness is controversial.[27] To measure the mucociliary transport time the use was introduced by Passali in combination with saccharin
Red colobus monkeys in Africa have been observed eating charcoal for the purposes of self-medication. Their leafy diets contain high levels of cyanide, which may lead to indigestion. So they learned to consume charcoal, which absorbs the cyanide and relieves indigestion. This knowledge about supplementing their diet is transmitted from mother to infant.[29]
Also, see Activated charcoal, medicinal applications.
Smoking
Special charcoals are used in smoking the hookah. Lit charcoals are placed on top of foil that is placed over the tobacco bowl. The charcoals "cook" the tobacco to a temperature that does not burn it but produces smoke. Normally, charcoal for hookah or shisha smoking must be hard, high density, easy to ignite, and burn longer with persistent heat.[30]
Charcoals used for smoking hookah are manufactured using multiple materials from natural charcoal, coconut coals, and less exotic woods such as oak.[31]
Environmental implications

Charcoal production at a sub-industrial level is one of the causes of deforestation. Charcoal production is now usually illegal and nearly always unregulated as in Brazil where charcoal production is actually a huge illegal industry for making pig iron.[32][33][34] Massive forest destruction has been documented in areas such as Virunga National Park in the Democratic Republic of Congo, where it is considered a primary threat to the survival of the mountain gorillas.[35] Similar threats are found in Zambia.[36] In Malawi, illegal charcoal trade employs 92,800 workers and is the main source of heat and cooking fuel for 90 percent of the nation’s population.[37] Some experts, such as Duncan MacQueen, Principal Researcher–Forest Team, International Institute for Environment and Development (IIED), argue that while illegal charcoal production causes deforestation, a regulated charcoal industry that required replanting and sustainable use of the forests "would give their people clean efficient energy – and their energy industries a strong competitive advantage."